Selasa, 26 September 2017

Kyai Menguak Keberkahan Air dan Tanah (Bag. 3/Habis)

IbjmArt.com ~ Delapan tahun saya dekat dengan Gus Dur. Saya punya rekaman 95 menit dengan Gus Dur, dan itu tidak dimiliki oleh yang lain. Saat itu tiba-tiba Gus Dur minta dibawakan tim media saya. Gus Dur hanya memakai celana pendek sambil tiduran di ruang tamu minta direkam. “Pak sudah siap,” kata saya.

“Ya sudah,” jawab Gus Dur.

“Mohon Bapak pakai sarung,” protesku karena tak pantaslah Gus Dur sebagai narasumber hanya memakai celana pendek.

Kata Gus Dur, “Lhoh, kan sumber utamanya Anda. Anda yang harus rapih. Saya hanya mendampingi.”

Akhirnya saya minta Mas Munif, menantunya Mbah Abdul Jalil Mustaqim, untuk mengambilkan sarung. Lalu sarung itu diberikan ke Gus Dur dan hanya ditutupkan di atas celana. 90 menit tiba-tiba Gus Dur cerita soal kuliah dan belajar beliau.

Gus Dur itu sosok pendendam yang baik. Dulu pernah saya di pesawat bersama Gus Dur, saya ijin, “Mohon maaf, Nurcholis Majid mau ke rumah saya di Jatiwangi.”

“Iya, dia mau jadi presiden. Tapi nggak mungkin,” jawab Gus Dur.

“Tapi Cak Nur bilang Pak,” kata saya. “Apa sih yang salah dengan saya? Gus Dur itu baca satu ayat dua ayat, tapi terkenal dan diaku jadi wali. Tapi saya padahal sudah menyebutkan ayat, surat, tafsir dan referensinya masih saja disalahpahami.” Kata Cak Nur yang saya tirukan.

Gus Dur hanya diam, sama sekali tidak bertanya kepada saya. Hingga kemudian saat Gus Dur bertemu saya di kediaman Tuan Guru Turmudzi Lombok NTB, beliau tiba-tiba ceramah dengan membaca 10 ayat yang panjang-panjang sekaligus menyebutkan ayat serta suratnya. Juga tiba-tiba Gus Dur membaca qasidah-qasidah dan puisi-puisi lama (berbahasa Arab) yang sangat panjang, beserta keterangannya lengkap. Waktu itu saya tidak tahu ada apa dengan Gus Dur yang tiba-tiba seperti itu.

Pas waktu pulang, saat di pesawat Gus Dur tiba-tiba memegang tangan saya dan berkata, “Anda dengerin ceramah saya di Lombok?”

“Dengar Pak!” jawabku.

“Catat, saya lebih hebat dari Cak Nur!”

Waktu itulah saya baru sadar saat di pesawat sebelumnya beliau hanya diam ternyata karena tidak terima dengan perkataan Nurcholis Majid yang saya sampaikan ke beliau. Gus Dur benar-benar sosok pendendam yang baik.

Saya belajar dari Gus Dur juga bahwa jadi manusia itu sangat berat. Saya teringat dan waktu itu saya baru sadar, ternyata shalatnya Gus Dur itu setelah wudhu kemudian duduk menghadap kiblat. Beliau juga mendawamkan wirid Ratibul Haddad menjelang akhir hayatnya.

Saya juga teringat saat Gus Dur dicium tangannya oleh Habib Mundzir bin Fuad al-Musawa. Waktu itu saya dan Gus Dur sedang di bandara. Tiba-tiba Habib Mundzir al-Musawa yang hendak dakwah ke Papua menghampiri dan menciumi tangan Gus Dur seraya bersimpuh di hadapan Gus Dur. Lalu saya tanya, “Ada apa Bib?”

“Kalau wali ya Gus Dur, Kang Maman.” Jawab Habib Mundzir.

Tiba-tiba Gus Dur bertanya kepada saya, “Itu siapa?”

“Habib Mundzir, Pak,” jawab saya.

“Kalau ingin tahu wali yang muda ya Habib Mundzir. Tapi usianya tidak panjang,” kata Gus Dur kemudian.

Gus Dur sudah menyebut Habib Mundzir al-Musawa akan meninggal dunia dalam usia yang sangat muda.

Gus Dur terkadang kalau marah itu menarik. Tiba-tiba saya disuruh bacain surat kabar, ada beberapa kiai yang menolak Gus Dur. Kemudian Gus Dur berkata, “Apa salah saya yah Kang Maman? Padahal saya tidak pernah berbuat salah kepada kiai-kiai itu.”

Dalam masalah uang, saya pernah ceramah bareng Gus Dur. Waktu itu Gus Dur dapat amplop 50 juta, saya 5 juta. Ternyata punya saya yang 5 juta itu pun diminta Gus Dur,“Sini yang 5 juta Kang Maman!”

Lalu tiba-tiba oleh Gus Dur uang itu dibagi-bagi ke dalam beberapa bagian, dan dimasukkan ke dalam amplop. Gus Dur kemudian meminta saya untuk menuliskan satu persatu nama-nama kiai di amplop itu sesuai yang diucapkan Gus Dur; kiai anu dari Kalimantan, kiai anu dari Sulawesi, kiai anu dari perbatasan Sulawesi, dst.

Jadi Gus Dur tidak pernah punya dompet dan uang pun kadang-kadang selalu habis untuk dibagi-bagikan. Makanya sampai sekarang makam yang paling ramai dikunjungi orang Indonesia adalah makamnya Gus Dur. Gus Dur itu manusia, yang mampu memanusiakan manusia.

“Kenapa sewaktu Muktamar di Solo saya diusir pakai anjing?” Gerutu Gus Dur tidak terima.

Tapi saat turun ke bawah di Bandara Adi Sucipto, ada wartawan yang bertanya, “Gus, itu ada beberapa kiai yang menolak Anda.”

Cara bertahan Gus Dur menarik. Gus Dur tiba-tiba tersenyum dan menjawab, “Ah kata siapa? itu yang bilang paling tukang becak pakai sorban.”

Gus Dur mengijazahkan kepada saya di detik-detik terakhirnya, tanggal 7 Desember 2009, Ayat Kursi. Di kalimat “Wala Ya-uduhu dst...” dibaca 7 kali. Saya tanya, “Untuk apa Pak?”

“Untuk penjagaan saja. Indonesia akan mengalami masa-masa sulit, gonjang-ganjing, sampai tahun 2030-an.” Jawab Gus Dur


*Sya'roni As-Samfuriy. Disampaikan oleh KH. Maman Imanulhaq, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Mizan Jatiwangi Majalengka dan Ketua Umum LDNU Pusat dalam Pengajian Akbar dan Khataman Al-Quran Reuni IKABU (Ikatan Alumni Bahrul Ulum Tambakberas se-Jabodetabek).

Jumat, 22 September 2017

Kyai Menguak Keberkahan Air dan Tanah (Bag. 2)

IbjmArt.com ~ Ramadhan kemarin, ketika saya diundang oleh Kick Andy, dibuatkan sebuah acara bertajuk ‘Dakwah Ramah’ dengan merangkul anak-anak jalanan. Perasaan saya dan istri serta beberapa penonton di ruangan itu, melihat tidak ada yang salah dengan pernyataan saya.

Namun ada perasaan tidak enak di hati saya. Melihat yang sudah-sudah sekelas Ketua Umum PBNU saja (Kyai Said Aqil) dibully terus-terusan, tapi beliau bandel. Hingga saya pernah bertanya, “Kyai kok tenang-tenang saja?” Jawab Kyai Said enteng, “Lha wong HP saya jadul.” Jadi selama ini beliau tidak bermedsos seperti twitter, facebook ataupun lainnya.

Giliran Gus Mus yang saya tanya, “Abah tenang-tenang saja?” Jawab Gus Mus, “Lha iya, kita mikirnya Allah saja, kenapa mikir manusia?” Beliau kalau ke saya sangat luwes.

Saya juga pernah bertanya kepada Mbah Mun (KH. Maimoen Zubair), karena sekelas beliau ada saja yang menyerang. Namun jawab Mbah Mun,“Saya itu senang aja dikomentari, mau jelek atau tidak.” Habib Luthfi Bin Yahya pun mengalami hal serupa dengan para pimpinan NU tersebut.

Jadi setelah para pimpinan NU diserang tapi tidak mempan,maka serangan mulai ke tingkat bawah, yaitu saya sebagai Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU). Jadi waktu itu saya sudah tahu akan diserang. Betul saja, MCA (Muslim Cyber Army) menyerang dengan narasi yang tidak pernah saya ucapkan, “Perhatikan, adakah yang salah dari video ini?” Mereka mengambil (potongan) video yang satu menit, lalu mereka membuat narasi, “Kyai Maman menyamakan semua agama”.

Apakah itu ada di pernyataan saya? Saya cek tidak ada. Dan dibully selama kurang lebih seminggu. Kalau saya sih biasa-biasa saja dibully, tapi yang tidak biasa adalah staf-staf saya di LDNU. Hingga putri saya yang sedang mesantren di Bahrul Ulum Jombang ikut marah, ngomong ke ibunya, “Mah, Papa sedang diserang, apa perlu kita bacain doa di sini, istighatsahan agar yang nyerang Papa mati semua?” Istri saya hanya menjawab, “Papamu tidak pernah mengajarkan untuk membalas orang yang membenci.”

Anak-anak santri saya yang sedang keluar sering diomongi oleh salah satu guru yang kebetulan hari ini kampungnya terkenal dengan tertangkapnya seorang teroris. Kata dia Kyai Maman tidak pernah shalat, mengajarkan keagamaan yang ngacau, sering ziarah kubur, dlsb. Jadi tuduhan-tuduhan seperti itu sudah sangat biasa bagi saya.

Singkat cerita, bully-an terhadap saya pasca acara Kick Andy, selesai setelah satu minggu. Tiba-tiba ada yang telepon ke Bang Andy (host acara Kick Andy), “Mas Andy, bolehkah saya minta nomor teleponnya Pak Maman?” Jawab Bang Andy, “Saya harus telepon dulu Kang Mamannya.”

Kemudian Bang Andy telepon saya, katanya, “Kang, ada yang minta nomor telepon.” “Ini haters atau lovers?” tanya saya. Kata Bang Andy, “Aku tidak tahu.” Lalu saya jawab, “Ya sudah, kasih saja.”

Beberapa saat kemudian orang itu menelepon saya, “Pak Maman, bolehkah saya berkunjung ke rumah?”

Bayanganku langsung teringat dulu saat tragedi di Monas, saya digebukin sampai kepala saya dijahit dengan 18 jahitan, dagu 4 jahitan dan dada saya diinjak-injak. Saya juga teringat saat Gus Dur datang ke tempat saya dirawat, beliau nampak bersedih. Waktu itu kepala saya masih menetes darah, kemudian tangan Gus Dur diusapkan ke darah itu lalu dicium di hidungnya seraya berkata, “Tidak boleh ada lagi darah yang mengucur untuk membela keragaman, membela kebhinnekaan.” 

Namun kemudian Gus Dur tersenyum dan berkata, “Tapi bersyukur saja Kang Manan, Anda hanya 18 jahitan tapi jadi terkenal seluruh Indonesia.”

Saya terus-terusan difitnah, pesantren saya diprovokasi, dan lain sebagainya. Ada saja orang yang percaya bahwa saya salah. Ada beberapa tokoh NU yang datang dari Tanjungsari, Tasikmalaya, untuk klarifikasi. Saya jawab, “Tidak ada yang salah. Saya yakin dengan Islam. Dst.”

Singkat cerita orang yang menelepon saya datang bersama istrinya ke tempat saya di Jatiwangi Majalengka. Orang itu datang ke ayah saya seraya bilang, “Saya mau ketemu Pak Maman.” Ayah saya menjawab, “Pak Mamannya tidak ada, sedang di Jakarta.” “Saya ingin tahu, benar atau tidak di sini ada pesantrennya,” kata orang tadi kemudian.

Lalu mereka diajak keliling ditunjukkan di mana anak-anak jalanannya, di mana kepengurusan Paket C, dan lain sebagainya. “Tempat ini bagaimana cara membangunnya?” tanyanya kemudian. Dijawab, “Dibangun sedikit-demi sedikit.” Jadi tidak seperti pesantren-pesantren yang pinjam uang dulu ke bank puluhan milyar, baru dicarikan santrinya dengan biaya SPP puluhan juta perbulan. Kita pesantren-pesantren NU benar-benar dimulai dari nol, bahkan terkadang harus menggratiskan biaya para santrinya.

Akhirnya orang itu bilang, “Pak Haji, bilang ke Pak Maman, apa yang dibutuhkan?” Ayah mertua saya hanya bilang, “Di sini sering ada acara Fatayat, Muslimat, IPPNU dan semuanya tingkat Jawa Barat. Jadi butuh Aula.”

Lalu orang itu berkata, “Ok, saya akan bangun Aula. Saya nonton sepanjang acara Kick Andy. Saya tahu persis bagaimana perasaan Pak Maman ketika dibully. Saya hanya ingin mengatakan akan bantu kepada siapapun yang berjuang di jalan Tuhan.” Tanpa berpanjang kata dan tanpa proposal yang rumit, orang itu menyumbangkan dananya sebesar 1 Milyar. Saya meyakini itu bagian dari keberkahan.

Menyambungkan ke cerita sebelumnya, saya menikah tahun 1994 dengan Ibu Hj. Upik Rofiqoh. Dulu saya beserta istri sering sowan ke Ibu Nyai Khadijah Bahrul Ulum Jombang. Kepala kami sering dielus-elus oleh Ibu Nyai seraya didoakan. Sampai sekarang masih sangat terasa keberkahan doa-doa itu.

Singkat kata, semoga anak-cucu kita meneruskan estafet perjuangan ini, tetap mesantren di pesantren-pesantren NU, dan tetap jadi Sarkub (Sarjana Kuburan). Jangan sampai ada lulusan Pesantren Tambakberas tiba-tiba jadi anti ziarah kubur. Lanjut nanti ke bagian 3 kisah menarik Gus Dur dengan para kyai NU...

*Sya'roni As-Samfuriy. Disampaikan oleh KH. Maman Imanulhaq, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Mizan Jatiwangi Majalengka dan Ketua Umum LDNU Pusat dalam Pengajian Akbar dan Khataman Al-Quran Reuni IKABU (Ikatan Alumni Bahrul Ulum Tambakberas se-Jabodetabek).

Kamis, 21 September 2017

Kyai Menguak Keberkahan Air dan Tanah (bag. 1)

IbjmArt.com ~ Sewaktu awal saya mondok 6 tahun di Baitul Arqom al-Islami Ciparay Bandung, pada Kyai Ali Imron Faqih, adik iparnya Kyai Ilyas Ruhiyat. Setelah itu melanjutkan ke Kyai Mudzakir di Banyurip Pekalongan, murid dari Mbah Dimyathi Termas, saya dapat ijazah Dalail dari beliau. Anehnya oleh adik Kyai Mudzakir –sosok unik yang selama 40 tahun tidak pernah keluar kamar- saya diajarkan cara berdebat dan cara mempertahankan Ahlussunnah wal Jama’ah lewat surat yang ditulis sangat bagus oleh beliau, termasuk diajarkan mencintai para habaib.

Dari Kyai Mudzakir lah saya dipertemukan dengan Habib Luthfi Bin Yahya, yang waktu itu masih muda, dan Habib Ali Alattas (guru Habib Luthfi) saat itu masih hidup. Habib Ali Alattas adalah habib sepuh di Pekalongan yang unik. Tidak bisa melihat tapi mampu mengajar kitab Syarah Bukhari, yang berarti beliau hafal kitab tersebut di luar kepala. Dari Habib Luthfi saya minta petunjuk, dan dijawab oleh beliau, “Nanti setelah beres dari Kyai Mudzakir harus berangkat ke Kyai Abdullah Salam.”

Lalu saya pun (berguru) membaca al-Quran di Kyai Abdullah Salam, sekaligus kepada putra beliau Kyai Nafi’ Abdillah Salam Kajen Pati. Di sana tiba-tiba saya bertemu Mbah Lim. Dan Kyai Abdullah Salam dawuh, “Wis toh Man, ojo suwe-suwe ning Pati. Cukup puasa di sini 4 bulan, ziarah ke Mbah Mutamakkin, jangan lupa terus-menerus khatamin al-Quran, lalu kamu harus ke Tambakberas. Dan 40 hari jangan lepas baca Yasin Fadhilah di makamnya Kyai Wahab Hasbullah. Setelah itu jangan lama-lama mesantrennya, segeralah nikah!”

Akhirnya dari Mbah Mutamakkin saya lanjut ke Tambakberas, ke ar-Raudhah, di situ ada Abah Taufiqul Fattah. Ternyata di sana sudah ada santri putri yang dulu juga pernah 3 tahun mondok di Baitul Arqom Bandung. Akhirnya saya sering minta maaf ke Gus Roqib –yang saat itu Kepala Keamanan Pesantren Putri Tambakberas-  dan beliau bertanya mau ke mana Man, saya jawab “ke adik saya Gus!” Yang lalu dipersilakan masuk oleh beliau.

Mengingat masa-masa itu, Gus Roqib selalu tertawa, “Aku iki diapusi Maman terus-terusan. Saya kira dia itu adiknya beneran, ternyata pacarnya! Untung saja nikah.” Setiap kali saya ketemu Gus Roqib pasti tersenyum-senyum sendiri. 

Dari spirit itulah, sebenarnya ketika saya di Baitul Arqom Kyai Ali Imron terus-menerus menyuruh saya berziarah ke suatu makam leluhur beliau dan satu sumur yang sangat terkenal. Di pesantren pertama saya inilah tempat ditangkapnya Kartosuwiryo. Kyai Ali Imron sering bilang, “Dek,” panggilan beliau kepada saya. “Suatu saat kamu akan berhadapan dengan kelompok-kelompok seperti Kartosuwiryo. Orang bodoh tapi cita-citanya tinggi. Orang yang teriak-teriak Islam tetapi dia tidak mau mengaji. Orang yang kemana-mana ngomong syariat tapi kemana-mana dia bawa keris. Dia lebih percaya kepada keris daripada percaya kepada shalat. Itulah Kartosuwiryo, sahabatnya Bung Karno yang sama-sama belajar di Surabaya pada Pendiri SI (Sarekat Islam).”

Sampai hari ini saya sering datang ke Baitul Arqom karena adik bungsu saya menikah dengan putranya Kyai Ali Imron. Maka pesantren saya al-Mizan, Pesantren Baitul Arqom dan Pesantren Cipasung menjadi bersaudara karena pernikahan itu. Disamping tentu karena nasab keilmuan. 

Begitupula setelah saya di Banyurip Pekalongan, saya terus-menerus disuruh untuk berziarah ke beberapa makam termasuk Habib Ahhmad bin Abdullah bin Thalib Alattas di Sapuro. Sampai sekarang saya masih disuruh untuk mandi di suatu tempat di Banyurip dan Makam Sapuro.

Dan juga saat di Mbah Mutamakkin, yang mana di sana terdapat sumur-sumur keramat dan makamnya Mbah Mutamakkin. Tentu sejarah Mbah Mutamakkin sudah banyak yang membaca dan mengetahuinya. Bagaimana dulu beliau pernah berdebat dengan seorang penghulu Kudus, karena Mbah Mutamakkin memelihara anjing yang diberi nama nama sang penghulu tadi. Kita tahu sejarah mencatat Mbah Mutamakkin dianggap kalah, tetapi sejarah juga mencatat bahwa Mbah Mutamakkin lah yang menang dengan melahirkan Mbah Sahal Mahfudz dan melahirkan begitu banyak tokoh. Inilah NU, yang kadang-kadang disalahkan dalam tulisan sejarah namun realitanya NU-lah yang memenangkan pertarungan besar dalam segala jaman. 

Dan akhirnya sampailah saya di Tambakberas, disuruh mandi juga di salah satu sumur dekat al-Muhajirin. Ada tempat sampah di sana yang di belakangnya terdapat sumur keramat. Di Tambakberas ini mulai kenal dan dekat dengan Gus Dur.

Gus Dur akhirnya menjadi sejarah yang tak terlupakan. Tiba-tiba Gus Dur datang ke Cirebon, memegang erat-erat tangan saya sangat lama. Lalu beliau berkata, “Saya akan datang ke tempat Anda!” Gus Dur selalu menyebut kata ‘Anda’ ke saya waktu itu. “Dan akan menitipkan ruhnya Mbah Fattah di tempat Anda,” lanjut Gus Dur.

Jadi Gus Dur lah yang pertama-tama datang ke pesantren dan Gus Dur tidak pernah mau masuk ke dalam. Tiga kali hanya sekadar duduk di depan gerbang pesantren. Kata Gus Dur, “Pesantren ini akan didatangi banyak tokoh!” dan terbukti begitu banyak tokoh, beberapa menteri, beberapa duta besar, termasuk Presiden Jokowi datang ke pesantren saya. Itu semua hanya karena (berkat) doa Gus Dur. 

Dan Gus Dur waktu itu hanya menancapkan satu benda yang itu menjadi sumber air sampai sekarang. Saya sempat terpikir juga kenapa pesantren saya tidak besar-besar, ada makam di belakang pesantren yang entah makam siapa. Saya pernah bilang ke Gus Dur, “Pak, kadang-kadang Bapak perlu ke sana, cari tahu itu makam siapa.” Padahal Gus Dur bisa saja ngarang waktu itu, tapi beliau malah menjawab, “Tidak usah. Allah akan memberi keberkahan.”

Nah, dari Tambakberas lah memberikan kepada saya begitu banyak anugerah. Dari sana saya dipertemukan dengan wanita yang menjadi istri saya, juga dipertemukan dengan Gus Dur. Dan akhirnya Allah memberikan kemudahan pada saya ketika membangun pesantren yang diberi nama al-Mizan, berdiri tahun 1999.

Saya masih ingat ketika Ayip Rosyidi, seorang tokoh Jatiwangi Majalengka, dengan nyinyir mengatakan, “Sampai kiamat pun tidak akan pernah ada pesantren di tempat ini. Sampai kiamat pun tidak akan pernah ada santri yang mau mondok di pesantrenmu. Itu tempat merah, kotor, dlsb.” Tetapi dengan keramatnya Tambakberas ternyata santri semakin bertambah banyak yang mondok di Pesantren al-Mizan. Allah memudahkan itu semua.

Dari itu yang ingin saya tekankan adalah bahwa Tambakberas bukanlah sekadar nama, bukan sekadar tempat mencari ilmu, tetapi Tambakberas itu barokah. Tanah Tambakberas dalam klasifikasi tanah, itu tanah universitas. Jadi jika kita ingin membangun pesantren, tanyalah dulu kepada ahli hikmah (kyai yang bijak-bestari), “Tanah kita itu tanah tingkat apa?”

Karena ada tanah yang kita habis-habisan; orangnya pintar semua, di pondok dia hebat, menikah dengan istri yang hebat, tetapi tiba-tiba menempati tanah yang derajatnya hanya TK. Yang ada kemudian hanya pertengkaran, kekacauan, dan tidak berkembang. Makanya rata-rata pesantren itu menempati tempat yang klasifikasi tanahnya universitas. Masih ada kyai-kyai kita yang ahli hikmah.

Jadi berkah itu ‘ziyadatul khair’, bertambahnya kebaikan. Jadi Saya yakin sekali ketika Gus Dur bilang menitipkan Mbah Fattah di tempat ini, maka Allah memberikan banyak kemudahan. Ini salah satu kemudahan.

(Syaroni As-Samfuriy. Disampaikan oleh KH. Maman Imanulhaq, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Mizan Jatiwangi Majalengka dan Ketua Umum LDNU Pusat dalam Pengajian Akbar dan Khataman Al-Quran Reuni IKABU (Ikatan Alumni Bahrul Ulum Tambakberas se-Jabodetabek).

Selasa, 28 Maret 2017

HABIB LUTHFI; DARI TA’ARUF MENUJU CINTA DAN BELA TANAH AIR

DARI TAARUF MENUJU CINTA DAN BELA TANAH AIR*


*Disarikan dari arahan Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Yahya (Rais Aam Jam’iyyah Ahlit Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah/JATMAN)

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. al-Hujurat ayat 13).

Arti dari “ta’aruf” teramat luas. Yang pertama ta’aruf kesadaran bahwa kita dengan segala keanekaragaman adalah bermula dari satu ayah-satu ibu, Adam dan Hawa. Dari satu keturunan itu kemudian kita dijadikan berbagai suku dan bangsa dengan bahasa dan budaya yang berbeda-beda. Dari bangsa Arab, Amerika, Rusia, China, Indonesia dlsb.

Bukan itu saja, (kedua) kita perlu mengenali/ta'aruf akan kekayaan alam dan potensi bangsa dari Sabang sampai Merauke. Dan bagaimana posisi strategisnya kepulauan Indonesia di tengah poros dunia. Dengan mengenali kekayaan, potensi dan posisi strategisnya Indonesia kita menjadi tahu tantangan kita yang sesungguhnya sebagai bangsa yang memiliki sejuta pesona, ibarat seorang gadis lincah nan cantik jelita di tengah kerumunan para pejantan yang sewaktu-waktu siap menerkam. Semua ingin untuk mendapatkan Indonesia, untuk memiliki, menguasai dan menjarah Indonesia.

Dengan mengenali taaruf yang demikian kita tentu terpanggil untuk ikut menjaga serta mempertahankan keutuhan dan kesatuan wilayah Indonesia. Bukan hanya dari sisi nasionalis dan kebangsaan semata kita terpanggil, akan tetapi lebih jauh syariat Islam mengajarkan pada kita untuk menjaga dan mempertahankan hak milik kita sampai darah penghabisan. Dalam upaya yang demikian syara' memberikan apresiasi yang tinggi atas kecintaan seseorang pada bangsa dan tanah airnya dengan memberikan predikat sebagai seorang Syahid. Senagaimana sabda Nabi Saw.:

مَنْ قُتِلَ دُونَ مَالِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ

Barangsiapa dibunuh karena membela hak miliknya (apalagi tanah airnya) maka dia mati syahid. (HR. at-Tirmidzi no. 1338, 1339 dan 1341, dan Ibn Majah no. 2570).

Inilah bagian dari makna ta'aruf. Siapapun yang dapat dan mau menggali makna ta'aruf dengan mendalam pasti dia akan menjadi pembela sejati untuk bangsanya sebagaimana yang sudah dilakukan dan dicontohkan para ulama kita. Tak satupun dari mereka kecuali Pencinta NKRI dan Pencinta Pancasila. Karena Pancasila terbukti mampu menjadi penyeimbang yang mempertemukan seluruh elemen bangsa hingga terselamatkan dari cerai-berai.


Selanjutnya Allah membekali kepada umat manusia agar tidak merasa lebih tinggi dari bangsa lainya dengan ketegasan bahwa kemuliaan seseorang dan suatu bangsa ditentukan dari tingkat ketakwaan mereka. Bila semua bangsa memahami ayat ini maka tidak bakal terjadi pertempuran di muka bumi. (Ditulis oleh: KH. Zakaria Ansor)

Sabtu, 25 Februari 2017

HABIB LUTHFI BIN YAHYA; CARA RIDHA (MENERIMA) QADHA ALLAH SWT.

IbjmArt.Com ~ Bab ini sebenarnya sedang menerangkan tentang perjalanan ahwal para wali Allah. Dan kita sebagai orang awam turut belajar menerima ridha apa yang dikehendaki Allah Swt. Tidak berarti ridha meninggalkan ikhtiar. Ridha tetap di dalam perjalanan ikhtiar. Misalnya dalam hari ini atau kapanpun, kita diberi oleh Allah sebuah kesulitan dalam mencari rizki. Karena timbul sebab-musabbab orang bisa menerima bukan masalah pribadinya saja, tapi karena ditangisi atau takut disalahkan oleh keluarga terutama istri, ibu anak-anak yang melihat keberadaan para anak-anak dalam segala kekurangannya untuk hari itu khususnya.

Protes selalu dilontarkan, bukan karena tidak menerima qadha tetapi karena sebab melihat putra-putrinya yang mana juga belum siap untuk menerima qadha (kehendak) Allah Swt. Bagi seorang suami menitikberatkan, “Alhamdulillah kita mendapat rizki hari ini walaupun kurang, cukuplah asal anak-anak kita tidak kelaparan”, dari hitungan segi materiil. Karena keberadaan mencari sesuatu yang wajib untuk dijadikan nafkah keluarga maka pasang surut itu pasti ada. Surut terkadang sampai menipis (kritis), sehingga kita hampir saja mengeluh mendapatkan kesukaran ketika mencari rizki. Ini satu contoh, bukan sedang menceritakan tentang penyakit atau cobaan keluarga karena terlalu tinggi. Ini saja yang kaitannya dengan duniawi, hampir kita semuanya tidak ingin mengalami terkena gelombang tersebut.

Kita dididik untuk ‘menerima ridha’. Kalimat ‘menerima ridha’ sebetulnya untuk menjernihkan hati kita dahulu supaya setan tidak masuk ke hati kita, lebih-lebih nafsu. Terus akal kita juga berputar, “Padahal saya tadi demikian-demikian, kok hebat yah tidak laku, apa sih sebabnya?” Untuk beberapa hari, maaf-maaf saja yang akan saya ucapkan karena sebetulnya saya tidak ada niat untuk menyinggung, ‘karena tidak ada pengajian yang menyinggung’. Di kitab itu sudah ada garis-garisnya, ketentuan-ketentuannya. Tapi maklum saja kalau kaki atau tangan ada bengkaknya biasanya kalau kena obat perih, padahal itu obat.

Maksudnya, karena tidak didasari ridha maka yang muncul adalah suudzan, perasangka dulu yang akan muncul. Misal saya punya dagangan. Toko saya sudah dibuka dari tadi, anehnya beberapa hari ini orang kok lewat saja seolah-olah di situ tidak ada toko atau barang dagangan saya. Satu kali masih belum kena goyangan hatinya. Dua kali masih lumayan. Tiga kali mulai datang ke kiai. Kalau tidak datang ke kiai datangnya ke dukun. Kalau ke kiai masih Alhamdulillah. Kalau dukunnya benar masih baik, seumpanya benar.

Begitu datang ke kiai, “Assalamu’alaikum.” “Wa’alaikumussalam, silakan. Dari mana Bapak?” jawab kiainya. “Dari sini…” jawab tamu. “Alhamdulillah,” kalau orang shaleh, “Hari ini saya gembira Pak. Berarti saya menambah persaudaraan ‘al-Mu’min akhu al-Mu’min al-Muslim akhu al-Muslim’. Kita punya kenalan baru saudara Muslim, Alhamdulillah. Semoga pertemuan perkenalan ini jangan sampai membawa mafsadat atau kerugian yang membawa dalam dunia ini sampai akhirat nanti. Semoga keukhuwahan kita terjalan sampai dunia-akhirat.”

“Kenapa begitu Kiai?” tanya tamu. “Iya, kan kelak di kubur ditanya setelah man Rabbuka waman Nabiyyuka wama qiblatuka sampai waman ikhwanuka. Kan kita ditanya sama Allah Swt. dengan melalui malaikatNya Munkar dan Nakir, ‘man ikhwanuka? siapa teman-temanmu?’. Pasti kita akan menjawab ‘ikhwaniy mu’minin wal mu’minat wal muslimina wal muslimat’.”

Cara Menggalang Persaudaraan dari Hidup sampai Mati

Orang yang tulus, dalam kubur adalah yang mampu untuk menjawabnya, pasti akan mudah menjawabnya. Tapi kalau di dunianya ini tidak menggalang keukhuawahan/persaudaraan, kita sama kita tidak akur karena sesuatu dan lain-lainnya, sehingga banyak dari teman-teman menjauhi diri kita. Maka dari sebab itu ketika kita ditanya “Man ikhwanuka”, muamalah (perbuatan) tadilah yang akan menjawab. Tidak mampu akan menjawabnya, sebab menjawabnya sesuai jawaban ketika hidup di dunianya. Tapi kalau orang yang lapang dada, banyak persaudaraan, banyak keukhuwahan, pasti akan menjawab ‘ikhwaniy’ dengan bangganya karena persaudaraan itu yang muncul. Dengan bangga dan senang akan menjawab, “Saudaraku adalah mu’min wal mu’minat, muslimin wal muslimat”.

Bahkan persaudaraan ini di dalam kematian, dimanapun saja, biasanya masih ada. Misal diantaranya dilontarkan oleh ahli waris, kalau tidak wakilnya, atau salah satu ulama untuk menyaksikan, “Ketahuilah para saudara-saudara, ini mayit baik ya?” Spontan dengan kelapangan hati akan menjawab, “Baik” karena merasa kehilangan saudara, merasa teman yang baik hilang, dan orang itu tidak pernah suudzan. Walaupun terkadang pernah menyakiti, tapi tidak pernah melihat kejelekannya, selalu melihat kebaikannya. Tapi jarang, insyaAllah ada.

Padahal ketika kita menyatakan “Baik”, logika bernalar, “Kita tahu perbuatan si A, kejelekannya kita tahu, sering melanggar apa yang dilarang oleh Allah Swt., seringkali kesurupan botol (isinya/miras), kita tahu bukan katanya. Tapi apapun beliau sudah meninggal, saudara kita ini, kita menyatakan baik.” Baik di sini artinya ‘ma’fu’, memaafkan. Dengan itu akan meringankan beban di alam kuburnya terhadap seseorang yang meninggal. Dan ketika kita sadari telah menyatakan baik, akan menutup semua buku-buku hitam yang dimiliki oleh yang meninggal. Tutup buku, selesai, finish. Kita hanya mengatakan, “Allah yaghfir lahu, Allah yarhamuhu”.

 Kalau mendengar orang yang meninggal tadi tidak baik, kita jawab, “Allah yaghfir lahu, Allah yarhamuhu”. Karena kita sudah menyatakan baik. Sudah tutup buku. Tapi terkadang kita kurang bijaksana ketika seseorang meninggalkan anaknya atau dalam majelis kita lupa menceritakan orang atau kebusukan orang yang sudah meninggal padahal sudah tutup buku kita menyatakan baik, tidak ada realisasinya. Kalau si A ini yang meninggal punya anak lelaki atau perempuan, paling tidak kalau kita sudah berani menyatakan baik, akan menolong regerenasi atau keturunannya.

Anaknya cantik atau ganteng, kebetulan ada yang mencintainya. Yang namanya orang lelaki atau perempuan yang normal ingin dibuai, disayang, disanjung, wajar namanya manusia normal. Ada seseorang yang mendengar, yang terkadang shahibul usil, datang dari rumah hanya ingin tahu. Tanya, “Nak, benar kamu atau bapaknya ini?” “Benar.” “Saya dengar katanya kamu mau meminang si A atau si Fulanah?” “Iya, doakan saja.” “Apa tidak ada perempuan lain!?” Nah inilah, padahal dia yang pernah menyatakan baik tapi tetap masih mengungkit alamarhum atau yang sudah meninggal, masih dibuka sehingga mengorbankan kepada anak perempuannya.

Tapi bagi orang yang bijaksana menjawabnya ketika datang, “Mas, saya dengar katanya kamu anak lelaki yang ingin meminang si A.” “Iya benar, kenapa?” “Alhamdulillah, syukur, tolong titip, dibina dan dididik. Udahlah itu saja. Terimakasih sekali kalau kamu sampai ke sana, berarti luar biasa. Hebat kalau begitu.” Hilanglah shahibul usil kalau bisa begitu.

Ada lagi anaknya terkadang di pesantren. Karena ibunya baik, ibunya tidak mau anaknya meniru bapaknya (yang sudah meninggal) maka dipesantrenkan sambil sekaloh. Eh datang ke tempat kasepuhan atau yang pantas dituakan, begitu datang dia ditanya, “Lho dari mana Nak, kamu kok lama tidak kelihatan?” “Njeh Pak, saya sekarang di pesantren dan sekolah.” “Bagus, luar biasa. Ini kampung memerlukan generasi muda seperti kalian untuk meneruskan. Bapak kan sudah tua, kan yang meneruskan nanti di pundak kalian. Jangan kayak Bapakmu!” Ini namanya sudah diangkat lalu dibanting. Padahal orang itu ketika itu (meninggalnya si bapak anak tadi) telah menyatakan baik.

Orang yang bijak jawabnya lain, “Di mana Nak? Saya dengar sekarang kamu di pesantren dan meneruskan sekolah di situ.” “Iya Pak betul, doanya.” “Jangan khawatir! Saya bangga, ingin mempunyai anak seperti kamu.” “Lho kenapa Pak?” “Karena kamu anak yang bisa mengangkat nama baik orangtua. Saya ingin kamu teruskan dan teruskan, sebab di kampung ini memerlukan orang-orang atau para pemuda seperti kalian.” Itulah hebatnya, jawabannya mantap.

Ulama Seharusnya Menjadi Penenang

Nah ulama-ulama ini harusnya bisa menjadi penenang. Maaf, jangan menjadi orang yang suka menakut-nakuti. Ada orang datang (membawa) masalah, perut anaknya yang sudah besar. Mending kalau hamil, ternyata bukan perempuan melainkan anak laki-laki. Matanya sudah coklat, ini liver, hepatitis. Begitu datang, “Kiai, minta barokahnya supaya Allah memberikan kesehatan kepada saya.” “Sakitnya apa kata dokter?” “Katanya liver, hepatitis A, B atau C.” “Maka dari itu kamu makannya yang benar. Jangan makan melulu. Ini nih akibtanya, kena luh liver! Udah ingat mati baru datang ke kiai!” La ilaha illallah, ini mau cari penenang malah dimarahi.

Tapi orang (ulama) yang bijak lain lagi, “Kenapa kamu kok perutnya besar?” “Kata dokter hepatitis, Kiai. Obatnya sulit.” “Siapa bilang? Obat itu bukan Tuhan, penyakit bukan Tuhan, sembuh pun bukan Tuhan. Obat mencari sarana Allah supaya memberi kesembuhan, sebagaimana orang makan mencari kenyang, orang minum mencari pelepas dahaga. Kalau seumpanya beri’tiqad penyakit itu mematikan, itu syirik. Karena penyakit itu bukan Tuhan.” Bisa menghibur, karena yang datang adalah saudara kami saudara mu’min-muslim.

Kalau tidak, secara manusiawi kalau bukan Muslim pun harus kita besarkan hatinya. Karena mereka menanggung istri dan anak-anaknya yang masih kecil-kecil yang tidak berdosa. Pandangannya harus luas. Itu diantaranya. “Sudahlah, insyaAllah akan ada obatnya. Yang besar hati. Tawakkal kepada Allah Swt. Jangan tinggal ikhtiar. Saya doakan insyaAllah kamu sembuh.”

Meraup Hikmah dari Ujian yang Datang

Begitu juga seperti si pedagang yang datang kepada ulama atau orang yang shaleh. “Masa orang yang lewat tidak bisa lihat?” “Iya, kayak tidak wajar Kiai.” “Lha tidak wajarnya bagaimana, apa orang itu kalau lewat tidak punya mata?” “Ya punya mata, Kiai.” “Lha iya, jangan begitu, jangan suudzan dulu. Memang belum rizkinya, jangan berperasangka buruk. Saya doakan. Ini dibaca munajat kepada Allah, insyaAllah nanti Allah Swt. akan membuka yang besar usahanya. Terima kehendak Allah nanti kamu dibuka.” Bersih hatinya.

Tapi kalau datangnya (kepada orang yang) salah, “Menurut hitungan saya ada yang membuat. Wajar!” Ini datang husnudzannya untuk mengurangi dosa malah tambah dosa. Akhirnya si setan kulonuwun, tanpa salam masuk saja. Bayangannya muncul,‘khayaliyah’ yang dibawa nafsu dan setan.

Tapi kalau datangnya kepada orang yang shaleh maka jawabannya seperti di atas tadi, “Sudahlah, mesin kendaraan itu kalau jalan terus tidak pernah dikir atau turun mesin, lambat atau cepat akan rusak. Makanya harus turun mesin dulu supaya diperbaiki menjadi baik, olinya dan lain sebagainya terkontrol dengan baik lalu dipasangkan lagi mesinnya. Mungkin sudah mendapat hasil yang baik maka nanti jalannya akan baik. Mari kita sekarang ini masih turun mesin dalam bidang ekonomi, insyaAllah mesinnya akan baik. Amin.”

Ridha itu di situ. Kalau kita menerima ridha justeru kita ini lapang, lapang sekali, bersih dari perasangka-perasangka yang kurang terpuji. Itulah diantaranya makna ridha. Kalau para auliya, aduuh bukan pangkat kita. “Allahummaj’alna minhum,” semoga kita menjadi orang yang seperti mereka (para wali Allah). Dan Allah Swt. memberikan kekuatan. Amin.

(Syaroni As-Samfuriy. Ditranskrip dari penjelasan Maulana Habib M. Luthfi bin Yahya kitab Jami’ al-Ushul fi al-Auliya’ bab Ridha (Menerima) terhadap Qadha Allah Swt. pada Pengajian Jum’at Kliwon Kanzus Sholawat Pekalongan 24 Februari 2017).
   
Video dokumentasi bisa dilihat dan didownload di sini: https://youtu.be/2q7eN59Php8

Kamis, 02 Februari 2017

JAUHI SENJATA! SERUAN HABIB UMAR BIN HAFIDZ DI JAMAN FITNAH

IbjmArt.Com ~ Di dalam buku kecil karya al-‘Allamah al-Habib Umar bin Hafidz BSA Yaman berjudul “Wala Tanaza’u Fatafsyalu Watadzhaba Rihukum  (Janganlah Kamu Berselisih Sehingga Menyebabkan Kamu Gentar dan Lemah)”, beliau menulis sebagai berikut:

إن الجهاد في سبيل الله على أوضح مجالاته وحالاته، لو قام فدخل في النية ذرة من قصد غير الله لضاع صاحبه، قال صلى الله عليه وسلم:(( من غزا وهو ينوي عقلا فله مانوى)) رواه أحمد والنسائي والطبراني والحاكم‘ فكيف إذا كان الأمر ليس بواضح القيام فيه على حقيقة من الدين ولا حقيقة من النور ولا حقيقة من الجهاد في سبيل الله تبارك وتعالى إلا ما يدعيه أصحاب كل فرقة أنهم مجاهدون ضد طائفة أخرى. إنها الفتن العمياء الصماء، إنها الفتن المظلمة، لاتكن فيها طرفا من الأطراف يقضي فيها الكافر والفاجر غرضه، أو يتخذه جسرا لينال شيأ من مراده، ولا بلغ الله أعداءه مرادا فينا ولا في أحد من أهل الملة ولا في أحد من أهل القبلة. يجب أن يتألم قلبك أن أصبح الناس من أهل هذا الدين العظيم عرضة لأن يسيروا ويدبروا من قبل قوى الكفر ليضعفوا بعضهم البعض ويؤذوا بعضهم البعض ويقتلوا بعضهم البعض ويتطاولوا على بعضهم البعض. ويسبوا بعضهم البعض من أباح لهم ذلك؟ من زين لهم ذلك؟ وعلى أي أساس يقيمون ذلك؟

“Jika jihad di jalan Allah dinilai sia-sia karena niat yang tidak ikhlas, maka bagaimana dengan tindakan yang belum tentu termasuk jihad di jalan Allah kecuali menurut klaim klompok yang suka memerangi klompok lain? Sungguh ini adalah fitnah yang buta dan tuli. Sungguh ini adalah fitnah yang bisa mencelakakan. Janganlah sampai kamu diperalat orang-orang kafir dan orang-orang jahat demi kepentingan mereka. Jangan sampai tujuan busuk musuh-musuh Allah terhadap kita dan satupun dari ahlul millah dan ahlul qiblah itu tercapai.

Wajib bagimu merasa prihatin karena umat Islam dijadikan boneka oleh orang-orang kafir untuk saling melemahkan, saling menjelekkan, saling mencaci bahkan saling membunuh. Siapa yang memperbolehkan tindakan tersebut? Siapa menganggap baik tindakan tersebut? Atas dasar apa mereka melakukannya?”

Lalu bagaimana petunjuk Nabi Muhammad Saw. dalam berinteraksi dengan fitnah tersebut? Dalam hal ini, al-Habib Umar bin Hafidz menampilkan sebuah hadits yang menjelaskan tentang akan terjadinya fitnah di akhir zaman. Tatkala fitnah itu terjadi, orang yang duduk lebih baik daripada orang yang berdiri. Orang yang berdiri lebih baik daripada orang yang berjalan. Dan orang yang berjalan lebih baik daripada orang yang berusaha.

Artinya, semakin dekat seseorang kepada fitnah tersebut maka ia dinilai semakin buruk. Dan semakin jauh seseorang dari fitnah tersebut maka ia dinilai semakin baik. Tatkala itu, sabda Nabi Saw., “Pecahkan busur panahmu. Putus-putuslah senarnya. Patahkan pedangmu dengan batu. Dan jika ada seseorang yang dimasuki untuk dibunuh maka hendaknya dia menjadi seperti anak yang baik dari dua putra Nabi Adam (Habil dan Qabil).”

Yang dimaksud anak yang baik disini adalah Habil yang perkataannya diceritakan di dalam al-Quran: “Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam.”

Setelah menyebutkan hadits ini, Habib Umar bin Hafidz menulis sebagai berikut:

أنجد أنصح منه؟ أم نجد بيانا أفصح من بيانه؟ إنه أشجع الخلق ، وأكرم الخلق والذي علم الناس تقديم الأنفس والأموال لله خالصة مخلصة نياتهم طيبة بها قلوبهم ونفوسهم، يبين هذا لبيان ويقول: أبعدوا عن استعمال الأسلحة، فليس الوقت وقتها ولا المجال مجالها وليست مؤدية إلى خير، فكسروا قسيكم وقطعوا أوتاركم واضربوا بسيوفكم الحجارة، صلوات ربي وسلامه عليه وهو سيد المجاهدين وهو خير المجاهدين.

“Adakah yang lebih bisa memberi nasihat daripada Nabi Muhammad? Adakah penjelasan yang lebih fasih daripada penjelasannya? Beliau adalah hamba Allah yang paling berani. Beliau adalah hamba Allah yang paling mulia. Dan beliau adalah seorang nabi yang telah mengajarkan untuk berkorban jiwa dan harta dengan ikhlas karena Allah. Namun beliau Saw. menjelaskan penjelasan ini dan berkata: “Jauhkan dirimu dari menggunakan senjata. Sekarang bukan waktunya. Di sini bukan ruangnya. Penggunaan senjata tidak akan mengantarkan kepada kebaikan. Maka pecahkan busur panahmu. Putus-putuslah senar-senar busurmu. Patahkan pedangmu dengan batu.”

Semoga rahmat dan salam Tuhanku selalu terlimpahkan kepada Kanjeng Nabi Muhammad Saw., pemimpin dan sebaik baik pejuang.” (Mohammad Mahrus Ali, tokoh muda NU Madura mantan Rais Syuriah PCI NU-Yaman dan alumnus al-Ahgaff University).


Minggu, 29 Januari 2017

HABIB ZAID BIN YAHYA: BEKAL NIKAH DAN BERKELUARGA

IbjmArt.Com ~ Habib Zaid bin Abdurrahman bin Yahya dari Tarim, Hadhramaut, Yaman dalam mau’idzah hasananya menekankan bagaimana pentingnya peran kedua orangtua, peran ayah dan ibu di dalam membina rumah tangga, memberikan pendidikan kepada anak-anak, sebagai generasi penerus yang bisa membanggakan dan membahagiakan Baginda Nabi Saw. Sesuai dengan tuntunan Baginda Nabi Saw., dalam QS. at-Tahrim ayat 6:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً

“Wahai orang-orang beriman, lindungilah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”

Ayat di atas berisi perintah Allah Ta’ala kepada orang-orang beriman untuk melindungi diri dan keluarganya dari api neraka. Ini penting menjadi perhatian setiap Muslim yang beriman. Sebab ukuran kesuksesan dan kebahagiaan manusia di akhirat kelak adalah ketika dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga. “Setiap jiwa akan merasakan kematian, maka barangsiapa yang diselamatkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka dia telah beruntung.” (Qs. Ali Imran ayat 185).

Menjaga keluarga yang dimaksud dalam butiran ayat yang mulia ini adalah dengan cara mendidik, mengajari, memerintahkan mereka, dan membantu mereka untuk bertakwa kepada Allah Swt., serta melarang mereka dari bermaksiat kepadaNya. Seorang suami atau ayah, wajib mengajari keluarganya tentang perkara yang difardhukan oleh Allah Swt. Bila ia mendapati mereka berbuat maksiat segera dinasihati dan diperingatkan.

Ayat ini menunjukkan amanah dari Allah Swt. terhadap seorang laki-laki, wajibnya suami mengajari anak-anak dan istri tentang perkara agama, kebaikan, serta adab yang dibutuhkan. Hal ini semisal dengan firman Allah Swt. kepada Nabi Saw.: “Perintahkanlah keluargamu untuk melaksanakan shalat dan bersabarlah dalam menegakkannya.” (QS. Thaha ayat 132). “Berilah peringatan kepada karib kerabatmu yang terdekat.” (QS. asy-Syu’ara ayat 214).

Ayat-ayat ini menunjukkan keluarga yang paling dekat dengan kita memiliki kelebihan dibandingkan lainnya dalam hal memperoleh pengajaran dan pengarahan untuk taat kepada Allah Swt. Beliau Saw. bersabda:

ارْجِعُوْا إِلَى أَهْلِيْكُمْ فَأَقِيْمُوا فِيْهِمْ وَعَلِّمُوهُمْ وَمُرُوهُمْ

“Kembalilah kalian kepada keluarga kalian, tinggallah di tengah mereka dan ajari mereka, serta perintahkanlah mereka.” (HR. al-Bukhari no. 628 dan Muslim no. 674).

Dalam hadits di atas, Nabi Saw. memerintahkan kepada sahabatnya untuk memberikan ta’lim (pengajaran) kepada keluarga dan menyampaikan kepada mereka ilmu yang didapatkan saat bermajelis dengan seorang alim.

Dengan penjelasan ini, dapat dipahami bahwa tanggungjawab seorang laki-laki sebagai suami/ kepala rumah tangga sangat berat. Jangan sampai ia menjadi seorang ayah yang hanya bisa memberikan makan dan minum, tetapi tidak dididik yang nanti akhirnya akan mengantarnya menuju ke nerakanya Allah Swt. Na’udzubillah min dzalik. Hendaknya suami atau ayah harus membekali dirinya memiliki ilmu yang cukup untuk mendidik anak istrinya adab dan akhlak, mengarahkan mereka kepada kebenaran, dan menjauhkan mereka dari penyimpangan. Juga karena Rasulullah Saw. bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَاْلأَمِيْرُ رَاعٍ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ، فَكُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ.

“Kamu sekalian adalah pemimpin, dan kamu sekalian bertanggung jawab atas orang yang dipimpinnya. Seorang Amir (raja) adalah pemimpin, seorang suami pun pemimpin atas keluarganya, dan isteri juga pemimpin bagi rumah suaminya dan anak-anaknya. Kamu sekalian adalah pemimpin dan kamu sekalian akan diminta pertanggungjawabannya atas kepemimpinannya.” (HR. al-Bukhari (no. 893, 5188, 5200), Muslim (no. 1829), Ahmad (II/5, 54, 111) dari Ibnu Umar Ra.).

إِنَّ اللهَ سَائِلٌ كُلَّ رَاعٍ عَمَّا اسْتَرْعَاهُ أَحَفِظَ ذَلِكَ أَمْ ضَيَّعَ؟ حَتَّى يَسْأَلَ الرَّجُلَ عَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ.

“Sesungguhnya Allah akan bertanya kepada setiap pemimpin tentang apa yang dipimpinnya. Apakah ia pelihara ataukah ia sia-siakan, hingga seseorang ditanya tentang keluarganya.” (HR. an-Nasai dalam ‘Isyratun Nisaa’ (no. 292) dan Ibnu Hibban (no. 1562) dari Anas bin Malik Ra.).

Seorang suami harus berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menjadi suami yang shalih, dengan mengkaji ilmu-ilmu agama, memahaminya serta mengamalkan apa-apa yang diperintahkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla dan RasulNya, serta menjauhkan diri dari setiap yang dilarang oleh Allah ‘Azza wa Jalla dan RasulNya. Kemudian dia mengajak dan membimbing sang isteri untuk berbuat demikian juga, sehingga anak-anaknya akan meneladani kedua orangtuanya karena tabiat anak memang cenderung untuk meniru apa-apa yang ada di sekitarnya.

Sebelum menjadi seorang ayah, semestinya ia telah menyiapkan istrinya untuk menjadi pendidik anak-anaknya kelak karena; “Ibu adalah madrasah (sekolah) bagi anak-anaknya.”

Perlu juga diperhatikan bahwa mendapatkan pengajaran agama termasuk salah satu hak istri yang seharusnya ditunaikan oleh suami dan termasuk hak seorang wanita yang harus ditunaikan walinya. Sementara Sayidina Ali bin Abi Thalib Ra. mengatakan, makna “jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”, adalah “didiklah mereka dan ajarkan ilmu kepada mereka (addibuhum wa ‘allimuhum)”.

Singkatnya, ilmu adalah bekal sekaligus panduan dalam mengarungi kehidupan dunia menuju kehidupan akhirat. Bahkan nabi Muhammad Saw. bersabda, “Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka dengan itu Allah mudahkan baginya jalan menuju surge.” (HR. Muslim). Dimudahkan masuk surga mengandung makna dijauhkan dari neraka.

Kedua orangtua, baik ayah maupun ibu harus memiliki kesadaran yang sesungguhnya, bahwa mengajar dan mendidik anak bukan menjadi tanggungjawab di madrasah, pondok pesantren atau di sekolah/universitas. Yang paling penting sesuai dengan ayat tersebut di atas adalah pendidikan dimulai dari rumah. Karena di rumah inilah, anak akan melihat langsung apa yang dilakukan oleh kedua orangtuanya, melihat langsung perilaku ayah dan ibunya begitu pula kakek dan neneknya.

Oleh sebab itu kedua orangtua harus memperhatikan penididikan anak-anaknya dari rumahnya, memberikan teladan yang baik sehingga anak tersebut tumbuh menjadi anak yang shalih penuh dengan akhlak yang mulia. Oleh sebab itu orangtua harus memperhatikan akhlak anak dan juga ilmu pengetahuan anak, disamping juga memperhatikan kebutuhan makan dan tunjangan hidup anak.

Kedua orangtua, ayah dan juga ibu harus memperhatikan kawan-kawan dari anaknya tersebut, dengan siapa anaknya berkawan, sesungguhnya Rasulullah Saw. sudah menegaskan:

الْمُؤْمِنُ مِرْآةُ (أخيه) الْمُؤْمِنِ

“Seorang mukmin cerminan dari saudara (teman)nya yang mukmin.” (HR. al-Bukhâri dalam al-Adab al-Mufrad no. 239 dan Abu Dâwud no. 4918).

Memilih teman yang baik adalah sesuatu yang tak bisa dianggap remeh. Karena itu, Islam mengajarkan agar kita tak salah dalam memilihnya. Rasulullah Saw. bersabda:

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
“Seseorang itu berada pada agama teman karibnya, maka hendaklah salah seorang diantara kalian melihat siapakah yang dia jadikan teman karibnya.” (HR. Abu Dâwud no. 4833 dan at-Tirmidzi no. 2378).

Maka dari itu lihatlah kawan-kawan anak-anak kalian dan juga lihatlah kawan-kawan kalian (ayah dan ibu), karena seseorang itu akan mengikuti agama kawannya. Oleh sebab itu juga, seorang ayah dan ibu harus mengingatkan anaknya punya kawan yang tidak baik harus diingatkan dengan baik-baik. Yang dimaksudkan juga bukan hanya kawan-kawan di dunia nyata ini, tetapi juga kawan-kawan di dunia maya, pertemanan media sosial, seperti di facebook, whatssap, email, internet dsb. harus diperhatikan, dicarikan kawan-kawan bermain yang baik, kawan-kawan yang shalih dan diingatkan jika kawan-kawannya itu tidak benar, bahwa kawan-kawannya itu tidak mendekatkan dirinya kepada Allah Swt.

Orangtua juga harus memperhatikan kesehatan anak-anaknya, kesehatan dzahir dan batinnya. Jika anak-anak terlalu sering memegang gadget handphone, smartphone, melihat TV terlalu lama, bermain PS terlalu lama, hal itu akan menyebabkan sakit, kesehatannya berkurang dan akan mengganggu daya pikirnya, perkembangan daya pikirnya, kekuatan daya pikirnya. Oleh sebab itu orangtua sangat harus mengarahkan dan mendidik anak-anaknya untuk menjadi anak yang baik dengan memperhatikan apa yang mereka lakukan sehari-harinya.

Shahibul Maulid, Rasulullah Saw., bisa menjadi contoh di dalam mendidik putra dan putrinya. Suatu ketika Rasulullah Saw. melihat dan mendengarkan putrinya mengucapkan sesuatu yang kurang patut. Maka Rasulullah Saw. mengingatkan bahwa apa yang diucapkan itu sangat besar pengaruhnya (tidak baik) dan sangat besar dosanya.

Anak-anak memang boleh dan berhak mendapatkan istirahat, dan waktu untuk bermain. Tapi kita sebagai orangtua harus memperhatikan apakah permainan tersebut akan membawa dampak positif bagi anak tersebut. Jangan sampai permainan-permainan tersebut membawa anak menjadi anak-anak yang tidak shalih, sering melaknat, sering mengumpat, sering melakukan tindakan-tindakan yang tidak patut, berkata kotor dan lain sebagainya.

Rasulullah Saw. merupakan pendidik yang perlu dicontoh, dan sudah memberikan contoh keteladanan yang paling baik dan sempurna melalui sabda-sabadanya Saw. bahwa didiklah anak-anak kalian sejak dini. Diantara sabda Rasulullah Saw.:

مُـرُوْا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّـلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِيْنَ، وَاضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا، وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ، وَفَرِّقُوْا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ.

“Suruhlah anak kalian shalat ketika berumur 7 tahun, dan kalau sudah berusia 10 tahun meninggalkan shalat, maka pukullah ia. Dan pisahkanlah tempat tidurnya (antara anak laki-laki dan anak wanita).” (HR. Abu Dawud no. 495).

Dipukul di sini adalah pukulan untuk ‘pelajaran’ bukan menyakitkan. Rasulullah Saw. mencontohkan dengan kayu siwak atau dengan sesuatu yang tidak menyakitkan. Dan pada umur 10 tahun itu juga anak laki-laki dan perempuan harus dipisahkan tempat tidurnya, tidak berada dalam satu tempat tidur dan tidur bersama. Namun sayangnya sebagian orangtua, seorang ayah atau ibu, ada yang menganggap remeh hal seperti ini, mendidik anak dari semenjak dini. Mereka beranggapan bahwa ‘ini adalah hal yang biasa, ini adalah hal yang lumrah’.

Jika anak kecil dibiarkan seperti itu, maka suatu saat keburukannya akan kembali kepada kedua orangtuanya. Di suatu saat nanti bisa jadi anak tersebut akan membangkang terhadap orangtuanya, ia lebih suka kepada kawan-kawannya, lebih suka kepada teman sepermainannya, dan dia benci kepada kedua orangtuanya dan tidak mau patuh kepada kedua orangtuanya. Dan itu akan menjadikan apa yang dilakukan kedua orangtua sewaktu kecil, maka akan dipetik sendiri oleh orangtuanya ketika ia telah dewasa nanti menjadi seorang ‘orangtua’. Oleh karena itu ini pentingnya mendidik anak sejak umur masih dini/kecil.

Beliau al-Habib Zaid bin Abdurrahman bin Husain bin Abu Bakar bin Umar bin Yahya berpesan kepada para anak-anak muda, “Kita harus patuh dan taat kepada kedua orangtua karena kita harus ingat bahwa dengan melalui keduanyalah kita bisa hadir di muka bumi ini. Dengan melalui keduanya kita bisa hidup di muka bumi ini, dan jangan sampai kita dalam hidup ini menyebabkan orangtua kita menjadi sedih, menjadi merana karena tingkah laku dan akhlak kita. Dan jadilah kita bisa membanggakan kedua orangtua, menjadikan mereka bahagia di dunia dan akhirat.”

“Anak-anak muda harus mengetahui, para remaja yang hadir juga harus mengetahui bahwa dengan berbaktinya kita kepada kedua orangtua, yang nantinya akan kembali kepada kita, InsyaAllah besok ketika kita sudah menikah dan mempunyai anak, maka akan mendapatkan anak-anak yang shalih, yang taat kepada kita, yang patuh kepada kita. Begitu pula sebaliknya, jika kita-kita ini menyebabkan hati orang tua kita terluka, menyebabkan orangtua merana dan sedih, tidak bisa membanggakan mereka, maka besok juga kita akan mendapatkan karmanya.” Lanjut Habib Zaid.

Inilah yang ditegaskan melalui sabda Rasulullah Saw. dari Jabir Ra., “Berbaktilah kepada kedua orangtua kalian, niscaya anak-anak kalian akan berbakti kepada kalian.” Jagalah kehormatan kalian, lindungilah kehormatan kalian, maka beliau Saw. bersabda, “Maka perempuan-perumpuan kalian, istri-istri kalian akan terjaga kehormatannya.”

Oleh sebab itu jika kita berkeinginan agar istri-istri kita mendapatkan perlindungan dari Allah Swt., tidak diganggu oleh orang lain, tidak melakukan kemaksiatan-kemaksiatan yang tidak diinginkan, maka kita harus menjaga kehormatan kita sendiri, menjaga mata kita tidak melihat hal-hal yang diharamkan oleh Allah Swt., tidak menggoda wanita-wanita yang bukan dihalakan kepada kita. Sehingga dengan cara demikian maka istri-istri kita dan juga anak-anak perempuan kita akan dilindungi oleh Allah Swt. dari fitnah-fitnah yang akan mengganggu mereka.

Dan yang terakhir, kami berpesan kepada para mempelai laki-laki dan wanita juga yang sudah berkeluarga, laki-laki dan perempuan yang sudah menikah baik yang diakad-nikahkan pada malam hari ini, maupun yang hadir di sini, maupun yang belum menikah InsyaAllah besok akan mendapatkan istri yang shalihah yang dipilihkan oleh Allah Swt. Ketahuilah Rasulullah Saw. bersabda:

خيركم خيركم لأهله وأنا خيركم لأهلي

“Orang terbaik diantara kamu adalah dia yang terbaik dalam hal berlaku baik terhadap ahli (penghuni) rumahnya, dan aku (Rasulullah Saw.) adalah yang terbaik dari antara kalian dalam hal memperlakukan dengan baik terhadap keluarganya.” Oleh sebab itu mahkota yang akan diberikan oleh Rasulullah Saw. kepada umatnya adalah mahkota kehormatan yang bisa menghormati dan memuliakan keluarganya dan anggota keluarganya.

Bagi wanita yang belum menikah, semoga Allah Swt. nanti akan menganugerahkan laki-laki yang shalih sebagai pendampingnya. Wahai wanita yang hadir di sini, perempuan-perempuan yang hadir di dalam majelis yang penuh berkah, keberkahan maulid ini, Rasulullah Saw. telah berpesan kepada kalian: “Apabila seorang wanita shalat lima waktu, puasa sebulan (Ramadhan), menjaga kemaluannya dan taat kepada suaminya, maka dikatakan kepadanya: ‘Masuklah engkau ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau sukai’.” (HR. Ahmad 1/191).

لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ ِلأَحَدٍ َلأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا

“Seandainya aku boleh menyuruh seorang sujud kepada seseorang, maka aku akan perintahkan seorang wanita sujud kepada suaminya.” (HR. at-Tirmidzi no. 1159, Ibnu Hibban no. 1291 dan al-Baihaqi VII/291, dari Abu Hurairah Ra.).


Ini menunjukkan bahwa bagaimana besarnya hak suami dalam keluarga. Semoga semuanya bisa memenuhi sunnah-sunnah Baginda Nabi Saw. Amin. (Disampaikan oleh al-Habib Zaid bin Yahya dalam acara Peringatan Maulid Nabi Saw. dan Haul KH. Abdul Lathif serta Sesepuh Desa Medono Pekalongan, di PP Al-Mubarok asuhan KH. Zakaria Anshor, 27 Januari 2017, dan diterjemahkan langsung oleh KH. Arif Chasanul Muna. Sumber: fp resmi Maulana Habib Muhammad Luthfi Bin Yahya).